Mazmur23:1 - "Tuhan adalah gembalaku; takkan kekurangan aku.". Daud adalah seorang gembala yang besar. Tapi dia mengerti bahwa perannya di hadapan Tuhan bukanlah untuk menjadi seorang gembala tetapi menjadi domba. David memahami bahwa fungsi utama dia bukanlah untuk memimpin tetapi untuk dipimpin. Sangatlah amat mudah bagi kita untuk Ketiga ada tongkat gembala yang membimbing, mengarahkan kawanan domba yang lemah itu. Apa yang diuraikan di atas sesungguhnya adalah gambaran dari kehidupan orang-orang percaya (Murid Kristus). Kita pun adalah domba dan Tuhan sebagai gembala kita. Sebagai domba, ada jaminan yang sungguh-sungguh yang diberikan oleh gembala (Tuhan) yakni: Diterjemahkanoleh: Widi Astuti. Diproduksi oleh: Bible for Children www.M1914.org. Bertahun-tahun yang lalu, pada masa pemerintahan. Raja Saul di Israel, seorang anak laki-laki bernama Daud menolong ketujuh orang kakaknya untuk menjaga kawanan domba ayah mereka. Walaupun dia yang termuda, Daud seorang yang kuat, seorang anak laki-laki yang Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. Sumber Alkitab / 1 October 2018 Inta Official Writer Pekerjaan sebagai gembala sudah banyak ditulis sejak kitab Perjanjian Lama. Salah satunya pada jaman Nabi Yehezkiel, dimana ia menyoroti kondisi Bangsa Israel yang sepertinya tidak punya Bangsa Israel yang tidak setia kepada Allah, Israel tertawan dan dibawa ke negeri orang Babel. Bangsa Israel kehilangan kebebasannya sekaligus kebahagiaannya. Ditengah-tengah masa sulit tersebut, Nabi Yehezkiel ikut terbuang bersama-sama dengan Bangsa Yehezkiel 341-10, pemimpin Israel tidak lagi melaksanakan panggilannya dan bertanggung jawab. Dengan egoisnya, pemimpin-pemimpin Israel memilih untuk melayani kepentingan mereka masing-masing. Hal ini membuat Tuhan mengambil alih pemimpin-pemimpin Israel dan memilih untuk menggembalakan bangsa pilihan-Nya 3415-16, "Aku sendiri akan menggembalakan domba-dombaKu dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya."Dari ayat di atas, berikut adalah 4 teladan Tuhan saat menggembalakan domba-dombaNya. 1. Membiarkan domba-dombaNya berbaring Kalimat ini sangat menjelaskan suasana yang tenang dan nyaman. Bukankah kita hanya bisa berbaring saat semuanya terasa nyaman? Seorang gembala yang baik akan berusaha untuk membuat domba-dombanya merasa tenang dan nyaman. Inilah yang Tuhan lakukan bagi kita sebagai umatNya. Kalimat ini tidak berarti kita tidak akan mengalami kesulitan saat memutuskan menjadi domba Allah, melainkan ini merupakan janji Tuhan kalau Ia tidak akan pernah membuat kita gelisah. Seperti pengalaman Daud yang penuh dengan tantangan, Daud berkata dalam Mazmur 36, “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!”2. Mencari domba yang hilang dan tersesatSebagai salah satu makhluk hidup yang membutuhkan kawanan, domba yang tersesat bisa kehilangan sukacitanya, rasa aman, dan ia selalu merasa kebingungan. Ketika kita sebagai domba tersesat, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sedetikpun. Dia akan selalu membawa kita berada pada kawanan kita, tempat yang juga Lewat Permainan Ludo Dan Ular Tangga, Tersemat Pelajaran Tentang Bangkit Dari Keterpurukan3. Membalut luka dan menguatkan yang sakit Sesulit apapun masalah yang kita terima, Tuhan selalu sedia untuk mengobati segala penyakit kita. Baik itu penyakit fisik maupun hati kita yang terluka. Saat kita membutuhkanNya, Tuhan akan selalu ada buat kita. Dia akan menyembuhkan setiap luka yang ada pada setiap kita. 4. Tidak hanya untuk yang lemah, Ia juga melindungi yang gemuk dan kuat Tuhan tidak pernah membeda-bedakan kita sebagai anakNya. Perhatian Tuhan bukan hanya buat mereka yang lemah, tetapi juga buat mereka yang kuat dan gemuk. Semua domba membutuhkan perhatian dari gembalanya. Tanpa terkecuali, Tuhan memperhatikan kita semua sebagai dombaNya. Sebagai domba Tuhan, Ia akan selalu menjagai kita. Lantas, buat apa lagi kita khawatir dan takut akan hari esok? Sebagai pelayan Tuhan, kita juga harus bisa meneladani sikap Tuhan sebagai gembala sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Yehezkiel di atas. Sumber sumber Halaman 1 Keluarga Rebank telah turun-temurun beternak domba di bagian utara Inggris. Dalam bukunya yang luar biasa, The Shepherd’s Life Kehidupan Seorang Gembala, James Rebank menceritakan bagaimana keluarga mereka membangun sebuah peternakan dengan menggarap area kecil yang ditumbuhi alang-alang dan onak. Hanya gembala-gembala tangguh yang dapat melakukan pekerjaan seperti ini. Keluarga Rebank bekerja keras untuk memelihara hidup domba-domba jenis Herdwick milik mereka di sepanjang musim dingin yang panjang dan gelap, di tengah ancaman es dan hawa dingin serta jarangnya rumput di padang. Sepanjang tahun, mereka berjuang melindungi domba peliharaan mereka dari penyakit dan mengusir hewan-hewan pemangsa. Mereka mengawasi kawanan domba mereka dengan keuletan yang teguh, kasih sayang yang lembut, dan kegigihan yang tangguh. Seperti gembala pada umumnya, keluarga Rebank senantiasa penuh perhatian dan murah hati. Mereka memberikan segalanya demi domba-domba mereka. Kisah yang ditulis James Rebank itu menggugurkan bayangan kita akan indah dan romantisnya beternak domba. Para gembala tidak menghabiskan hari-hari mereka dengan berjalan-jalan melalui kawasan pedesaan yang subur sambil bermain-main dengan hewan yang lucu. Mereka benar-benar menghadapi bahaya. Pikirkanlah gambaran Mazmur 23. Doa yang sangat terkenal ini—dan penghiburan yang ditawarkannya—menyatakan satu kebenaran mendasar Sang Gembala selalu menjaga kita. “Tuhan adalah gembalaku,” kata sang pemazmur, “takkan kekurangan aku” 231. Kalimat ini mendasari seluruh kelanjutan mazmur ini—dan seluruh hidup kita. Kata-kata ini tidak mengabaikan suramnya realitas kehidupan yang kita hadapi. Namun, kata-kata penghiburan ini mengumumkan sebuah pernyataan yang nyata Karena kita mempunyai Gembala yang baik, kita memiliki segala yang kita butuhkan. Gembala itu menuntun kita kepada padang rumput yang hijau di pinggir air yang tenang dan segar. Dia menyegarkan jiwa-jiwa kita yang lelah, sedih, dan gelisah. Sayangnya, seperti kata pemazmur, kita masih harus “berjalan dalam lembah kekelaman” Namun, bahkan di sana pun kita dapat menolak untuk takut—bukan karena kita mampu mengendalikan situasi yang ada, tetapi karena kita telah bertemu dengan Sang Gembala yang dapat diandalkan, dan kesetiaan-Nya untuk menyertai itu memusnahkan segala ketakutan kita. “Aku tidak takut bahaya,” kata pemazmur, “sebab Engkau besertaku” Dalam dua minggu terakhir, ada beragam pesan dan kabar menyedihkan yang saya terima. Seorang teman harus melarikan suaminya ke rumah sakit karena penyakit yang mengancam nyawa. Seorang teman lain terancam kehilangan apartemennya karena tidak bisa membayar sewa. Dunia menyaksikan bagaimana COVID-19 mengancam seluruh sendi kehidupan yang kita jalani. Di mana-mana, begitu banyak orang benar-benar membutuhkan pertolongan, tetapi bahkan di tengah kengerian yang sangat nyata, sang pemazmur mengatakan bahwa kita tidak perlu takut. Ketika musuh hendak menerkam kita dengan taring-taringnya yang tajam, Sang Gembala melawannya dengan penuh kuasa dan kegigihan. Kita tidak perlu takut karena kita memiliki seorang Gembala yang baik dan berkuasa. Gada dan tongkat-Nya menghibur kita Tongkat kait yang digunakan untuk menarik domba yang tersesat dari pinggir jurang dan gada alat pukul yang digunakan untuk memukul pergi hewan pemangsa itu menyatakan bagaimana Sang Gembala adalah pribadi yang lembut sekaligus tangguh. Lebih dari itu, Gembala kita juga menyediakan pesta perjamuan di tengah kesulitan kita. Dia memberikan kelimpahan—lebih dari yang kita butuhkan Gembala kita selalu mengawasi demi kebaikan kita, mencari kita dengan tiada lelah, dan mengenyahkan musuh yang hendak mengusik kita. Orang-orang Kristen mula-mula membaca Mazmur 23 dengan memahami bahwa Yesus adalah Sang Gembala yang sejati. Sebenarnya kita tidak perlu membaca tulisan-tulisan kuno untuk membuat kaitan tersebut, karena Yesus sendiri sudah melakukannya. “Akulah gembala yang baik,” kata-Nya Yoh. 1011. Segala sesuatu yang dilakukan sang gembala dalam Mazmur 23 sekarang dilakukan Yesus untuk kita. Karena Dialah Gembala kita yang baik, kita mempunyai segala sesuatu yang kita perlukan. Tuhan Yesus memberikan kita istirahat yang tenang. Dia memulihkan hati kita yang hancur. Dia membawa kita melewati lembah kekelaman bukan mengitari, tetapi melewatinya. Ketika kita tersesat, Yesus memperlakukan kita dengan baik, lembut, dan penuh kasih. Ketika musuh hendak menerkam kita dengan taring-taringnya yang tajam, Sang Gembala melawannya dengan penuh kuasa dan kegigihan. Jika kita ingin mengenal karakter Yesus, kita dapat melakukannya dengan menggali karakter sang gembala dalam Mazmur 23. Yesus setia dan tidak akan pernah meninggalkan kita. Dia murah hati dan selalu menyediakan kebutuhan kita. Dia bijaksana dan selalu mengetahui apa yang sungguh kita butuhkan. Yesus lemah lembut dan membalut hati kita yang cemas. Dia kuat dan sanggup melindungi kita dari apa pun yang mengancam kita bahkan dari hal-hal dalam diri yang cenderung merugikan kita sendiri. Yesus pantang menyerah dan setia mencari kita dengan kasih-Nya sampai akhir. Di Israel masa kini, para gembala sering tidur dekat domba-domba mereka supaya dapat berjaga-jaga sepanjang malam. Para gembala masih sering membawa gada untuk mengusir hewan pemangsa. Mereka menggunakan cara memanggil yang unik sebagai sinyal untuk memberi tahu domba-domba itu bahwa mereka dekat. Suatu kali di Israel, saya mengamati para gembala dengan kagum. Kemampuan, kegesitan, dan pengenalan mereka akan domba-domba dan lingkungan pedesaan di sana sungguh menginspirasi saya. Saya juga dikuatkan melihat kelemahlembutan mereka dalam memelihara kawanan mereka dan juga kesigapan untuk melindungi domba-domba itu dari bahaya. Domba-domba itu pun tinggal tenang dan aman dalam pemeliharaan sang gembala. Demikian pula dengan kita. –Winn Collier, penulis Our Daily Bread Persembahan kasih seberapa pun dari para pembaca di Indonesia memampukan Our Daily Bread Ministries untuk menjangkau orang-orang dengan hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup. Kami tidak didanai atau berada di bawah kelompok atau denominasi apa pun. - Didalam Alkitab diceritakan tentang sosok bernama Musa. Dia adalah seorang pemimpin dan nabi orang Israel yang menyampaikan Hukum Taurat dan menuliskannya dalam Pentateveh/Pentateukh Lima Kitab Taurat dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen Ia ditugaskan untuk membawa Bani Israel Israel keluar dari Mesir. Dilansir dari wikipedia, Nama musa disebutkan sebanyak 873 kali dalam 803 ayat dalam 31 buku di Alkitab Terjemahan Baru dan 136 kali di Al-Quran. Musa harus melewati berbagai macam rintangan sebelum akhirnya benar-benar menerima mandat sebagai orang yang diutus oleh Allah untuk membebaskan bangsa Israel, misalnya hampir dibunuh ketika ia masih bayi, dikejar-kejar oleh Firaun, sampai harus menjalani hidup sebagai gembala di tanah Midian selama 40 tahun. Itu semua diijinkan Tuhan untuk membentuk karakternya, sampai akhirnya Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dalam peristiwa semak duri yang menyala, tetapi tidak dimakan api. Pada akhirnya, Musa tidak sampai memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, oleh karena kesalahan perkataan Musa di Mara yang disebabkan oleh betapa pahit hati Musa menghadapi orang Israel. Musa hanya mengantarkan orang Israel sampai ke tepi timur sungai Yordan, sebelum menyeberang ke tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan tersebut. Musa akhirnya digantikan oleh abdinya yang setia yaitu Yosua bin Nun, yang akhirnya berhasil memimpin bangsa Israel masuk dan menduduki tanah Kanaan. Musa bahasa Ibrani מֹשֶׁה, Modern Mošé Tiberias Mōšeh; bahasa Arab موسى, Mūsā; bahasa Ge'ez ሙሴ Musse lahir di Mesir, ~1527 SM – meninggal di Gunung Nebo, dataran Moab, tepi timur Sungai Yordan, ~ 1407 SM pada umur 120 tahun. Melarikan diri dari Mesir Catatan Alkitab dilanjutkan lagi ketika Musa berusia 40 tahun. Waktu itu ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir. Pada sangkanya saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti. Musa pun melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk-duduk di tepi sebuah sumur. Adapun imam di Midian itu mempunyai tujuh anak perempuan. Mereka datang menimba air dan mengisi palungan-palungan untuk memberi minum kambing domba ayahnya. Maka datanglah gembala-gembala yang mengusir mereka, lalu Musa bangkit menolong mereka dan memberi minum kambing domba mereka. Kembali ke Mesir untuk memimpin Israel Selama tinggal di Midian, Musa biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Suatu waktu, ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampai ke "gunung Allah", yakni gunung Horeb. Waktu Musa sampai ke gunung Horeb itu, ia telah berdiam di Midian selama 40 tahun. Sesampainya di sana, malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Dari semak duri berapi itu Allah berbicara kepada Musa. Allah mengutus Musa untuk menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan. Musa pun kembali ke Mesir untuk meminta Firaun melepaskan bangsa Israel dengan ditemani Harun, abangnya. Firaun tidak bersedia melepaskan bangsa Israel karena hatinya dikeraskan oleh Allah untuk menunjukkan kuasa Allah kepada manusia. Akhirnya Allah menimpakan sepuluh tulah kepada bangsa Mesir yang puncaknya diperingati oleh bangsa Yahudi sebagai hari raya Pesakh atau pelepasan Paskah zaman Perjanjian Lama menurut orang Kristen di mana Firaun menyerah dan membiarkan bangsa Israel pergi. Pada hari itu yaitu tanggal 15 bulan Nisan ~25 April 1446 SM[46] bangsa Israel dibawa oleh Musa ke luar dari Mesir. Membawa Israel keluar dari Mesir Musa memimpin bangsa Israel dari Mesir menuju tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madunya, yaitu tanah Kanaan. Ketika mulai keluar dari Mesir, sang Firaun mengubah pikirannya dan mengejar kembali orang Israel. Musa kemudian membelah Laut Merah sehingga rakyat Israel yang hampir terkejar dapat menyeberang dan kemudian Musa menenggelamkan para pengejar yang berusaha menangkap kembali orang Israel. Selama perjalanan, bangsa Israel terus mengeluh dan mencobai Allah sehingga Allah marah dan menghukum Israel mengembara di padang pasir 40 tahun. Musa menerima Sepuluh Perintah Allah di bukit Sinai, dan menerima peraturan-peratuan peribadatan dan hukum-hukum sipil yang dilakukan oleh bangsa Israel hingga hari ini. Allah dengan perantaraan Musa melakukan banyak mujizat kepada bangsa Israel yang tidak percaya seperti memberikan manna, air, dan burung puyuh untuk menjadi makanan pokok orang Israel selama di gurun sehingga mereka tidak kelaparan maupun kehausan. Setelah 40 tahun lamanya memutari jazirah Arab, bangsa Israel sampai ke tanah Kanaan, namun Musa dilarang Allah untuk memasukinya, karena pernah berdosa kepada-Nya. Selama hidupnya, Musa melakukan berbagai fungsi pelayanan, antara lain Penulis Musa merupakan penulisdari 5 kitab pertama dari Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab. Kitab-kitab tersebut dalam Alkitab bahasa Indonesia diberi judul Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Kitab-kitab tersebut kemudian dikenal di kalangan orang Yahudi dengan nama Taurat, karena di dalam kitab-kitab tersebut terkandung banyak sekali perintah-perintah yang disampaikan oleh Tuhan kepada Musa untuk bangsa Israel. Musa juga menggubah sebuah mazmur, yang termasuk dalam kumpulan Kitab Mazmur, yaitu Mazmur 90. Hakim Musa mengatur kehidupan seluruh umat Israel, dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di dalam bangsa Israel. Namun semakin lama permasalahan itu semakin banyak, dan Musa harus menangani permasalahan seluruh bangsa Israel yang mengantri untuk diselesaikan permasalahannya dari pagi hingga malam hari. Atas saran Yitro mertuanya, Musa mengangkat pemimpin-pemimpin atas bangsa itu untuk menangani perkara-perkara yang kecil-kecil, sehingga Musa hanya menangani masalah-masalah yang cukup besar saja. Pembuat Tabut Perjanjian Musa, atas perintah Tuhan, membuat tabut perjanjian dan kemah suci, di mana di dalam tabut perjanjian itu terletak dua loh batu yang berisi sepuluh perintah Allah. Dalam pembuatan itu, Musa dibantu oleh Bezaleel bin Uri bin Hur dari kaum Yehuda dan Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan. Mereka berdua adalah orang-orang yang diperlengkapi Tuhan dengan keahlian.[58] Peran Di dalam Alkitab, Musa merupakan seseorang yang diutus oleh Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan menuntun Israel menuju tanah perjanjian, yaitu tanah Kanaan. Musa juga berperan untuk menguak sisi-sisi pribadi Allah, yang pada zaman orang Israel dianggap sebagai Pribadi yang menakutkan dan cenderung untuk menghukum. Musa menunjukkan bahwa bahkan pada zaman itu pun Musa dapat bergaul karib dengan Tuhan, bahkan sampai disebutkan berbicara berhadap-hadapan muka dengan Allah seperti sepasang sahabat. Musa juga mengajarkan bagaimana untuk menjadi seorang pemimpin yang penuh belas kasihan terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Di dalam banyak kesempatan ketika orang Israel memberontak, Tuhan sudah "menawarkan" kepada Musa untuk mengambil jalan pintas, yaitu dengan Tuhan memberantas seluruh orang Israel, dan akan menjadikan dari Musa seorang, suatu keturunan, bangsa yang besar. Namun Musa belajar untuk tidak mementingkan dirinya sendiri, dan memperjuangkan orang Israel di hadapan Tuhan. Namun Musa juga mampu marah bila saatnya tepat. Musa sungguh-sungguh marah kepada orang Israel ketika orang Israel, bahkan sampai Harun, kakaknya, berbuat dosa dengan menyembah patung Lembu Emas, sementara Musa sedang naik ke gunung Sinai untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan untuk bangsa Israel. SUBSCRIBE YOUTUBE TRIBUNMANADO OFFICIAL

gembala domba di israel